Kalau bagi kaum Tionghoa ada bulan hantu, maka bagi orang Batak ada yang namanya bulan pamer. “Bulan pamer atau bulan pameran?”.. “Bulan pamer.., bukan bulan pameran”. “Kapan itu?”, Jawabnya bulan Desember. “Lho..Kok?”. “Ya..iya..!”.
Bulan Desember biasanya bagi orang batak adalah bulan mudik, bulan mulak tu bona pasogit. Selain marsihol-sihol (melepas rindu) pada sanak saudara dan keluarga biasanya kesempatan ini juga untuk acara reuni, mungkin dengan teman-teman satu sekolah minggu, satu sekolah di SMP atau SMA atau bahkan mungkin satu sekolah di universitas hadatuon (ilmu ghaib). Selain melepas rindu dan reuni ini juga kesempatan yang sangat baik untuk memperlihatkan (bahasa lain dari memamerkan) apa yang mereka peroleh di tanah rantau.
Perjalanan pulang kampung dimulai dari Medan, sampai di Parapat, semua pasti takjub melihat keindahan danau toba, terutama anak-anaknya yang baru pertama kali dibawa pulang kampung setelah marroha, mereka terkagum-kagum..tidak sadar bahwa yang mereka pandangi adalah sebuah tong sampah raksasa. Si Bapak akan bercerita banyak mengenai kenangannya di danau ini, bercerita bahwa danau toba dulu jauh lebih indah dari sekarang. Mampir di rumah makan di Parapat, jangan lupa..tinggalkan saham di toilet. Satu jam kemudian perjalanan diteruskan, mendekati huta hatubuan, jalanan makin ke dalam makin rusak, untung nissan terrano keluaran terakhir yang sengaja mereka kendarai cukup tangguh untuk melalui jalan yang lebih layak disebut parguluan ni horbo (kubangan kerbau) itu. Sepanjang jalan si ayah berceloteh mengenai pengalaman masa kecilnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Bercerita seperti menepuk dada bahwa dia berhasil keluar dari kampung terpencil itu, terlebih.. dia sukses di tanah rantau
Begitulah..Pulang dengan mobil mewah, bawa oleh-oleh yang banyak, pakaian yang bagus-bagus, istri pakai perhiasan mahal dan berukuran besar (terutama waktu ke gereja) adalah semacam konvensi/aturan tidak tertulis untuk menunjukkan sukses tidaknya seseorang di perantauan. O ya..jangan lupa satu lagi : “Sumbangan /hamuliateon ke gereja”, yaa…sekaligus salah satu cara membuat pengumuman ke khalayak ramai bahwa saya sedang pulang kampung dan saya berhasil di perantauan, coba patinggil telingamu..dengar namaku atau keluargaku disebut dalam tingting parhepengon di gereja. Supaya tingting parhepengon itu lebih malliting/nyaring di telinga ruas/pendengar, jumlahnya harus “di”luar biasa”nya. Lagian..malu dong masa pulang kampung pakai Nissan Terrano keluaran tahun terakhir tapi sumbangan cuma seratus atau dua ratus ribu, dan cuma sekali lima tahun kan ?
Acara selanjutnya setelah acara pameran dan pengumuman di gereja selesai adalah berjalan keliling kampung, biasanya berita kepulangan pangaranto yang berhasil/sukses cepat sekali menyebar terutama setelah tingting di gereja tadi. Nah..kesempatan langka ini biasanya digunakan oleh kaum ibu/ina dan oppung-oppung untuk meminta oleh-oleh dari sang pangaranto na hasea/berhasil ini, Tentu saja..akan dilayani, Rp. 50.000 x 20 orang baru Rp. 1 juta rupiah, katanya dalam hati sambil berhitung sedikit..
Begitulah ritual pulang kampung itu dijalani oleh hampir sebagian besar halak hita yang pulang kampung di bulan Desember..
Setelah puas melepas rindu, berpesta, memamerkan dan menghamburkan apa yang diperoleh selama di tanah rantau maka mereka kembali ke pangarantoan…menginggalkan bona pasogit yang kering kerontang dan tetap miskin…
Tak meninggalkan makna apa-apa..
DIarsipkan di bawah: Ceritaku Untukmu