Orang Batak Yang Benar

Menurut saya hanya ada tujuh orang batak yang benar-benar Batak

1. Nommensen
2.Sisingamangaraja XII
3.Luhut Binsar Panjaitan
4. TB Silalahi
5. Bapakku
6. Mamak-ku
7.Tongam Sirait

Yang ke – 8 adalah kamu, jika mau berbuat sesuatu bagi Tanah Nenek Moyangmu : Tanah Batak! 

Lainnya saya anggap hanya pecundang sampai nanti tanah batak bisa hidup makmur..

Pembumihangusan Hutan Habinsaran di-backing Polisi

Penebangan Liar di Habinsaran Diduga Libatkan Oknum Polisi Pembeking Judi. Dirjen Perlindungan dan Konservasi Hutan Ir Arman Malolongi tidak yakin kalau pihak kepolisian tidak menindaklanjuti atau sengaja menghentikan kasus-kasus kehutanan seperti illegal logging ataupun penyerobotan liar terutama yang berada di dalam kawasan hutan konservasi dan Taman Nasional. Namun, Departemen Kehutanan selaku instansi terkait mempercayakan sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk penyelidikan hingga pengajuan kasus-kasus hutan ke Pengadilan. Dirjen menegaskan hal itu menanggapi pertanyaan wartawan di Bandara Polonia, Selasa (14/2) seputar adanya sinyalemen tentang beberapa kasus menyangkut perusakan hutan terutama di dalam kawasan TNGL seperti di Merek Tanah karo, Aceh Tenggara dan Langkat yang sepertinya berhenti begitu saja. Menurutnya, kasus-kasus perambahan liar maupun pengalihan fungsi di dalam kawasan TNGL memang diketahui dalam penyelidikan pihak Kepolisian. Yang jelas, kalau kasus yang ditangani penyidik PNS (PPNS) Kehutanan masih tetap jalan terus. Salah satu bukti kasus yang ditangani PPNS kehutanan adalah perambahan di kawasan Martelu Purba dan Taman Wisata Alam Labuhan Batu, kedua kasus itu telah dilimpahkan ke PN. “Soal kasus Merek Tanah Karo kalau memang dihentikan, apabila itu memang berada di dalam kawasan TNGL itu (tindakan-red) tidak benar. Kita tidak yakin kasus itu dibebaskan, itu hanya menunggu proses hukum,” tegas Arman Malolongi. Ia mengakui, pihaknya selaku instansi yang langsung terkait soal hutan akan tetap memantau penanganan kasus-kasus yang menyangkut illegal logging, perambahan atau penyerobotan maupun pengalihan fungsi kawasan hutan konservasi. Dijelaskan, untuk penyelesaian kasus hutan pihaknya sedang melakukan koordinasi ulang dulu dengan penegak hukum terkait Polisi dan Kejaksaan. Agar ke depan bisa memiliki persepsi yang sama dalam mengambil keputusan sampai ke Pengadilan. Kawasan hutan konservasi di Indonesia saat ini, katanya seluas 28 juta hektare. Inilah benteng terakhir pertahanan hutan di Indonesia. Sehingga terhadap upaya-upaya merubah fungsi di dalam kawasan itu tidak mudah karena harus melalui kajian-kajian mendalam dan melibatkan departemen terkait. Sedangkan hutan lindung tidak termasuk dalam 28 juta hektare itu, tapi Dirjen mengaku tidak tahu berapa luas kawasan hutan lindung saat ini. Soalnya, pengelolaan hutan lindung itu sudah dilimpahkan kepada daerah masing-masing. Menanggapi soal isu-isu kerusakan ekosistem yang dikhawatirkan bisa menghambat investasi di bidang pertambangan menurut Dirjen, kalau bicara soal kerusakan lingkungan hidup tentunya hal itu bukan hanya tugas Departemen Kehutanan tetapi melibatkan Menteri Lingkungan Hidup, Departemen Pertambangan dan instansi terkait untuk sama-sama mengkajinya. Tapi bicara soal investasi di sektor pertambangan menurut Dirjen, hal itu tentu saja sudah menjadi wewenang Presiden karena menyangkut lintas Departemen terkait. Saat ini Dephut, katanya, telah menetapkan 5 kebijakan prioritas yakni pemberantasan illegal logging, peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, revitalisasi kehutanan khususnya industri, gerakan nasional reboisasi hutan dan lahan serta pemantapan kawasan hutan. Kelima kebijakan ini katanya dimulai tahun 2005 lalu hingga 2009. Menyangkut dana reboisasi atau Gerhan yang banyak disoroti diselewengkan di daerah, Dirjen meminta komitmen masyarakat dan Pemda masing-masing. Pasalnya Gerhan itu sudah diturunkan langsung ke daerah agar masyarakat dilibatkan. “Jadi kalau tidak dilaksanakan dengan baik, yah jangan kita lagi disalahkan,” tandasnya. Sementara itu menanggapi soal maraknya penebangan liar kayu-kayu Meranti di Kecamatan Habinsaran Tobasa yang selama ini berlangsung aman karena diduga dilakukan oknum polisi dan mantan cukong judi, Kadis Kehutanan Sumut Ir Prie Supriadi mengatakan, hal itu sudah disampaikan langsung ke Dinas Kehutanan Tobasa untuk ditindaklanjuti. Menurut informasi, sejumlah tokoh masyarakat di Tobasa merasa resah akibat berlangsungnya penebangan liar kayu-kayu Meranti di Kecamatan Habinsaran belakangan ini dengan aman karena diduga kuat kegiatan itu melibatkan oknum polisi yang selama ini terlibat dalam mafia perjudian di Medan. Bahkan konon masyarakat dan DPRD setempat pun tidak berani memprotes aktivitas perambahan hutan yang juga sering merusak ruas-ruas jalan di kawasan itu karena pelaku penebangan liar itu menggunakan truk-truk tronton yang melintas hampir setiap malam hari menjelang subuh. Yang jelas kata Prie Supriadi, pihaknya mempercayakan Dinas Kehutanan di daerah masing-masing untuk memonitor perambahan liar dan bila ada ditemukan maka kasus hukumnya bisa tangani bersama Kepolisian maupun Kejaksaan. (B3/d)

Orang Batak Kehilangan Idenititasnya

I was saddened somewhat when I read the article in the Jakarta Post about the Batak people living in Jakarta seemingly losing their identity.

Young Batak people losing identity, study says
The Jakarta Post, Jakarta

A study has shown that many young Batak Toba people living in Jakarta have lost a strong sense of ethnic identity due to the inevitable mingling of cultures in the capital.Togar Nainggolan said the younger generation of Batak people born in Jakarta identified themselves as Jakarta-Batak people.

Togar was speaking during the launch of his book Batak Toba in Jakarta: continuity and identity changes, which is based on his doctoral thesis at Radboud Nijmegen University in the Netherlands.

The Batak are an ethnic group from North Sumatra.

Data issued by the Central Statistics Agency in 2000 showed there were 81,248 Batak families living in Jakarta.

“Sixty percent of the second generation of Batak people do not feel included within a Batak identity. They are Batak people but don’t consider themselves migrants to Jakarta. In their daily lives, and even at home, they don’t speak Batak languages anymore,” Togar said.

“The older generation, those who first settled in Jakarta, refer to themselves as Batak migrants, even though they have been living here for a long time. They continue to retain their traditions,” he said.

The study concluded that Batak Toba living in Jakarta had experienced some continuity, but also felt less affinity with their ethnic group than those who had stayed in North Sumatra.

“The continuity can be seen in the use of marga (family names) and their attendance at church.

“Poor families adhere to traditional practices and, for them, the family network is important to survive in the capital, while the richer Batak tend to simplify their traditions,” he said.

The study focused on family networks, religion, culture and identity.

It surveyed 250 Batak people living in five areas of East Jakarta: Kayu Putih, Pulogadung, Rawamangun, Cawang and Cililitan.

It was limited to Batak Toba. There are six Batak subethnic groups: the Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak and Toba

Bulan Desember..Bulan untuk Pamer

Kalau bagi kaum Tionghoa ada bulan hantu, maka bagi orang Batak ada yang namanya bulan pamer. “Bulan pamer atau bulan pameran?”.. “Bulan pamer.., bukan bulan pameran”. “Kapan itu?”,  Jawabnya bulan Desember. “Lho..Kok?”. “Ya..iya..!”.

Bulan Desember biasanya bagi orang batak adalah bulan mudik, bulan mulak tu bona pasogit. Selain marsihol-sihol  (melepas rindu) pada sanak saudara dan keluarga biasanya kesempatan ini juga untuk acara reuni, mungkin dengan teman-teman satu sekolah minggu, satu sekolah di SMP atau SMA atau bahkan mungkin satu sekolah di universitas hadatuon (ilmu ghaib). Selain melepas rindu dan reuni ini juga kesempatan yang sangat baik untuk memperlihatkan (bahasa lain dari memamerkan) apa yang mereka peroleh di tanah rantau.

Perjalanan pulang kampung dimulai dari Medan, sampai di Parapat, semua pasti takjub melihat keindahan danau toba, terutama anak-anaknya yang baru pertama kali dibawa pulang kampung setelah marroha, mereka terkagum-kagum..tidak sadar bahwa yang mereka pandangi adalah sebuah tong sampah raksasa. Si Bapak akan bercerita banyak mengenai kenangannya di danau ini, bercerita bahwa danau toba dulu jauh lebih indah dari sekarang. Mampir di rumah makan di Parapat, jangan lupa..tinggalkan saham di toilet. Satu jam kemudian perjalanan diteruskan, mendekati huta hatubuan, jalanan makin ke dalam makin rusak, untung nissan terrano keluaran terakhir yang sengaja mereka kendarai cukup tangguh untuk melalui jalan yang lebih layak disebut parguluan ni horbo (kubangan kerbau) itu. Sepanjang jalan si ayah berceloteh mengenai pengalaman masa kecilnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Bercerita seperti menepuk dada bahwa dia berhasil keluar dari kampung terpencil itu, terlebih.. dia sukses di tanah rantau

Begitulah..Pulang dengan mobil mewah, bawa oleh-oleh yang banyak, pakaian yang bagus-bagus, istri pakai perhiasan mahal dan berukuran besar (terutama waktu ke gereja) adalah semacam konvensi/aturan tidak tertulis untuk menunjukkan sukses tidaknya seseorang di perantauan. O ya..jangan lupa satu lagi : “Sumbangan /hamuliateon ke gereja”, yaa…sekaligus salah satu cara membuat pengumuman ke khalayak ramai bahwa saya sedang pulang kampung dan saya berhasil di perantauan, coba patinggil telingamu..dengar namaku atau keluargaku disebut dalam tingting parhepengon di gereja. Supaya tingting parhepengon itu lebih malliting/nyaring di telinga ruas/pendengar, jumlahnya harus “di”luar biasa”nya. Lagian..malu dong masa pulang kampung pakai Nissan Terrano keluaran tahun terakhir tapi sumbangan cuma seratus atau dua ratus ribu, dan  cuma sekali lima tahun kan ?

Acara selanjutnya setelah acara pameran dan pengumuman di gereja selesai adalah berjalan keliling kampung, biasanya berita kepulangan pangaranto yang berhasil/sukses cepat sekali menyebar terutama setelah tingting di gereja tadi. Nah..kesempatan langka ini biasanya digunakan oleh kaum ibu/ina dan oppung-oppung untuk meminta oleh-oleh dari sang pangaranto na hasea/berhasil ini, Tentu saja..akan dilayani, Rp. 50.000 x 20 orang baru Rp. 1 juta rupiah, katanya dalam hati sambil berhitung sedikit..

Begitulah ritual pulang kampung itu dijalani oleh hampir sebagian besar halak hita yang pulang kampung di bulan Desember..

Setelah puas melepas rindu, berpesta, memamerkan dan menghamburkan apa yang diperoleh selama di tanah rantau maka mereka kembali ke pangarantoan…menginggalkan bona pasogit yang kering kerontang dan tetap miskin…

Tak meninggalkan makna apa-apa..

Orang Batak itu (termasuk aku) Maccam Pantat Manuk boru-boru (ekor ayam betina)

rere.jpg 

Kawan..Kamu tau tidak manuk boru-boru atau ayam betina? bagus..artinya cerita ini bisa kita lanjutkan. Sekedar menyegarkan ingatanmu: Pantat ayam betina itu tidak pernah diam, selalu mengubit-ubit, selalu komat-kamit. Seperti itulah kebanyakan mulut orang batak, tidak mereka yang tinggal di kampung, dikota, di luar negeri selalu saja begitu, selalu mangubit-ubit. Mangubit-ubit karena terlalu pintar bicara, sehingga pintar memutarbalikkan fakta, mangubit-ubit karena pintar marbada/adu mulut , mangubit-ubit karena hanya bisa mengeluh, mangandung seperti kebanyakan lagunya yang andung-andung (nangis..).  Lihat juga komentar-komentar bernada kerinduan dan kecintaan akan bona pasogit /kampung halaman di blog-blog dan mailing list-mailing list batak. Kalau ada topik mengenai bona pasogit mulut mereka bisa sampai berbusa-busa bercerita mengenai kerinduan akan kampung halamannya disertai kata-kata penuh keprihatinan, tapi itu tadi..all bulshit, persis pantat ayam bukan? 

Mereka yang tinggal di luar negeri asyik pesta-pesta lalu pamer dengan mempublishnya lewat website batak yang sepertinya memang didesain untuk ajang narsisme..macam pantat ayam juga.

Lihatlah Danau Toba.. Kamu mungkin akan membantah kalau sekarang saya sebut hanya sebuah tong sampah raksasa, tak lebih tak kurang. Apa yang hebatnya sebuah tong sampah raksasa? Airnya kotor, taik kering menempel di sana-sini diatas batu-batu, gunung disekelilingnya gundul tanpa pohon kecuali semak duri dan ilalang. Sekalipun begitu, masih banyak orang batak yang memuji keindahannya, dan saya menyebut mereka itu adalah orang-orang bodoh, memuji-muji sebuah tong sampah raksasa berdinding tanah tandus.

Baru-baru ini pemerintah Indonesia mengeluarkan daftar daerah wisata yang direkomendasikan untuk dikunjungi dalam salah satu program wisata bertajuk “Visit Indonesia Year 2008″, kamu tau kawan? Danau Toba sama sama sekali tidak termasuk didalamnya. Menyikapi kenyataan itu sebagian orang batak tidak perduli dan ini saya kategorikan sebagai orang idiot, sebagian lagi hanya komat-kamit macam pantat ayam..seperti biasa..mengeluh, hanya secuil yang tidak mau diam begitu saja, ini hasil karya mereka : http://www.samosirtourism.com/ , mereka bergerak..tidak mau ikut-ikutan hanya mangubit-ubit seperti pantat ayam. Walaupun saya agak pesimis, usaha itu akan mendapat sambutan hangat..

Kamu tau berapa banyang orang batak bergelar Jenderal, Professor, Doktor, PhD, Insinyur, Dipl.Ing dan lain-lain gelar akademik dan professional? Tak terhitung ! Mereka tamatan dalm dan luar negeri dan tersebar di seluruh dunia, tapi itu tadi..kalau tidak idiot karena tidak mau tau maka yang lainnya hanya pintar komat-kamit macam pantat ayam.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal di Bonapasogit? Sama saja..Lihatlah anggota Dewan yang sebenarnya takl

lebih dari preman-preman kampung, Mereka ini mampu mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk ganti seragam dari seragam preman kampung ke seragam anggota dewan, seragam boleh beda, kelakuan saja sama, saya yakin kamu tahu berita beberapa waktu yang lalu ada yang ditangkap karena main judi waktu kunjungan kerja ke Jakarta? Nah…itu baru satu perbuatan discovered, bagaimana yang tersembunyi?. Mereka ini bertukar seragam hanya untuk melegalisasi ke-premanan mereka. Kawan..kamu tahu tidak sifat dasar seorang preman ? mereka benci persaingan !.

Karena sifat dasar itulah mereka jarang akur bahkan perang dengan dengan kelompok preman lain yang bernama

pemerintah daerah, punca/sumber ketidak akuran itu adalah, tentu saja ladang uang bernama proyek. Dalam tatanan pemerintahan yang demokratis, hubungan antara anggota dewan dan pemerintah adalah check and balance, bukan marbada muncung karena kepentingan sesaat sampai kepentingan rakyat tidak terakomodasi.

Dulu kelompok preman yang bernama pemerintah daerah ini punya segudang janji waktu kampanye pemilihan kepala daerah, yang mengherankan dia mampu mengeluarkan duit miliyaran rupiah hanya untuk memunculkan wajah idiotnya ke permukaan. Lihatlah apa yang berhasil dia kerjakan sekarang.. nothing! Kini dia malah sibuk mencari jalan berusaha menyelamatkan diri dari kasus dugaan korupsi 3 miliar rupiah yang dituduhkan padanya.

Ada satu lagi..kaum pemuda yang tinggal di kampung, tidak berbeda dengan saudara-saudara mereka yang tinggal di kota dan luar negeri sama sama macam pantat ayam, cuma komat-kamit, mengeluh dan kata-kata yang mallabab-labab. Ada 3 macam perkerjaan yang mereka tekuni : 1. Marbadai 2. Mabuk 3. Narkoba.. Ketiga jenis pekerjaan ini sangat mereka tekuni dengan sungguh-sungguh karena sesuai dengan latar belakang sifat dasar mereka yang sipanggaron, ketiga jenis pekerjaan ini bermuara pada  hasil akhir yang sangat manis bernama kemiskinan dan kemelaratan. Kadang mereka memang mempunyai sedikit uang, hasil main judi  atau mencuri, maka itu akan segera hilang di kedai tuak berganti dengan se-teko tuak atau selinting ganja. Sudah miskin, mereka ini bodoh, pengecut, tidak punya pendirian, lihat saja bagaimana hutannya habis dibabat oleh gerombolan preman kampung yang dibackup oleh ”anggota dewan” beserta gank-nya dari ibukota atau “pemerintah daerah” beserta kroni-kroninnya dari ibukota, mereka diam-diam saja tidak mau berbuat apa-apa. macam kutu kupret.

So..kawan, tidak heran kampung kita itu masuk dalam peta kemiskinan oleh pemerintah.

Kawan,  apakah kamu juga termasuk dalam golongan pantat ayam yang hanya bisa mangubit-ubit alias komat-kamit tadi ?  Kalau tidak maka berbuat saja..tak perlu banyak bicara.

Horas ma Portibi…

Selamat Datang di Tobasa.WordPress.Com.

Satu Cerita tentang Cinta Tanah Air yang sesungguhnya..

Holan hata do sian ahu, sian Ho,  sian Ibana, Sian Hita Sude.. Dos ma hita on songon Poting naso marisi na tinggil soarana.. holan soara..holan hata..holan hata!!